POLEMIK BATAS USIA MINIMAL 21 TAHUN DALAM MELAKUKAN HIBAH

  • Moh Usman Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Keywords: Hibah, Batas usia 21, KHI

Abstract

Abstract

The age limit for adults in Indonesia has always been a problem in the legal world, including the polemic regarding the age limit for grants, which is 21 years. This research is library research using a library approach and a psychological approach. In this article, it is concluded that the age limit of 21 years in conducting grants is contradictory to several other laws and regulations, such as of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage, Law Number 39 of 1999 about Human Rights, Law Number 35 of 2014 concerning amendments to No. 23 of 2003 concerning Child Protection, Law No. 30 of 2004 concerning the position of Notary Public, and also Circular Letter (SE) No. 4 / SE / I / 2015 about the limit of age for adults in the framework of defense services which all say that the legal age is 18 years. Likewise in a psychological study which concluded that the age of 18 years is included in the category of capable of acting and having mature emotions.

 

Abstrak

Batas usia dewasa di Indonesia selalu menjadi problematika tersendiri dalam dunia hukum, termasuk di antaranya polemik mengenai batas usia dalam melakukan hibah, yakni 21 tahun. Penelitian merupakan penelitian pustaka (library research) dengan memakai pendekatan perundang-undangan dan pendekatan pikologis. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa usia batas 21 tahun dalam melakukan hibah ialah kontardiktif dengan beberapa peraturan lainnya, seperti  Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, lalu Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak, Undang-undang No. 30 tahun 2004 tentang jabatan Notaris, dan juga Surat Edaran (SE) No. 4/SE/I/2015 mengenai batas usia dewasa dalam rangka pelayanan pertahanan yang semuanya mengatakan bahwa usia cakap hukum adalah 18 tahun. Demikian juga dalam kajian psikologis yang menyimpulkan bahwa usia 18 tahun sudah masuk dalam kategori cakap bertindak dan memiliki emosi yang sudah matang.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Buku
Anshori, Abdul Ghofur. Filsafat Hukum Hibah dan Wasiat di Indonesia. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2011).
Efendi, Mashur. Dimensi/Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional, (Jakarta: Ghalia, 1994).
HS, Salim. Hukum Kontrak: Perjanjian, Pinjaman dan Hibah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2015).
Lestari, Ningrum Puji. Hukum Islam, (Bandung: Logos Wacana Ilmu, 2005).
Saija dan Taufik, Iqbal. Dinamika Hukum Islam Indonesia. (Yogyakarta: Deepublish, 2016).
Soekito, Widoyati Wiratmo. Anak dan Wanita dalam Hukum, (Jakarta: LP3ES, 1983).


Jurnal
Abu Syhabudin, “Fiqh Indonesia: Transformasi dan Sinkronisasi Fiqh Wasiat dan Hibah Dalam Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia,” Al Mashlahah Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial Islam, vol. 3, no. 05 (2015), 1-46.
Fajrani, Febri dan Khaerani, Nuristighfari Masri. “Kelekatan Aman, Religiusitas dan Kematangan Emosi pada Remaja”, Jurnal Psikologi Integratif, vol 02 no 01 (2014). 22-29.
Lybertha, Dewina Pratitis dan Desiningrum, Dinie Ratri “Kematangan Emosi dan Persepsi terhadap Pernikahan Pada Dewasa Awal: Studi Korelasi Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro”. Jurnal Empati Vo. 5(1), (Januari-2016). 148-152.
Putri, Alifia Fernanda. “Pentingnya Orang Dewasa Awal Menyelesaikan Tugas Perkembangannya,” Schoulid: Indonesian Journal of School Counseling, Vol. 3(2) (2019). 35-40.
Wulandari, Ade. “Karakteristik Pertumbuhan Perkembangan Remaja dan Implikasinya Terhadap Masalah Kesehatan dan Keperawatan”. Jurnal Keperawatan Anak, Vol. 02 No. 01, (Mei-2914). 39-43.

Website
Aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima Kementerian Pendidikan dan Budaya Republik Indonesia.
Published
2020-12-15